Eksistensialisme 24 Mar 2026

Kegilaan, Moralitas dan Jurang Perang Pada Film Apocalypse Now

Ditulis oleh admin
Kegilaan, Moralitas dan Jurang Perang Pada Film Apocalypse Now

“Horor dan teror moral ialah temanmu. Jika mereka tidak, maka mereka adalah musuh yang ditakuti”. -Kolonel Walter E. Kurtz.

Kegilaan, Moralitas dan Jurang Perang Pada Film Apocalypse Now

“Horor dan teror moral ialah temanmu. Jika mereka tidak, maka mereka adalah musuh yang ditakuti”.

-Kolonel Walter E. Kurtz.

Berbagai film perang menawarkan panggung teatrikal aksi yang maskulin dan propagandis, namun sedikit film perang yang dapat menawarkan sebuah refleksi filosofis dan psikologis. Apocalypse Now (1979) merupakan film disutradarai oleh Francis Ford Coppola, sutradara yang sebelumnya melahirkan film epik The Godfather Part I dan II, serta mengambil inspirasi dari buku novel berjudul Heart of Darkness karya Joseph Conrad.

Film ini adalah karya sinematik bergenre psikologi dengan tema perang Vietnam yang menggambarkan kegilaan atas perang, menyoroti kehancuran fisik dan psikis para tentara yang terlibat. Mengajak penonton untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu: Apa yang terjadi ketika struktur moral runtuh? Apa hakikat kejahatan? Seberapa tipis garis antara kewarasan dan kegilaan?

download (1)

Marlon Brando sebagai Kolonel Walter E. Kurtz di Apocalypse Now (1979), Disutradarai oleh F. Coppola. Kepemilikan foto: Antonio Uceda, Pinteres.com

Perang sebagai Lanskap Psikologis

Apocalypse Now menggambarkan perang sebagai lingkungan yang melarutkan struktur identitas dan stabilitas makna. Film diawali dengan pemandangan hutan Vietnam sembari lantunan musik The End karya The Doors. Saat Jim Morrison vokalis The Doors melantunkan lirik pertama “this is the end…”, hutan tersebut dihujani api neraka Napalm milik AS. Sungguh unik cara Coppola mengawali film dengan lagu yang bermakna sebuah akhir dan pemandangan yang mendadak penuh kekacauan dan kehancuran.

Kapten Willard yang diperankan oleh Martin Sheen, memulai film ini dengan kondisi psikologis yang sudah retak. Ia sendirian di kamar hotel, mabuk dan linglung, menggambarkan trauma dan keterasingan yang dihasilkan oleh peperangan yang berkepanjangan. Kondisi mental ini mencerminkan apa yang diidentifikasi oleh psikologi kontemporer sebagai gejala stres pasca-trauma (PTSD), termasuk keterasingan emosional, ingatan yang mengganggu, dan hilangnya orientasi moral biasa.

Perjalanan sungai yang panjang dari Vietnam ke Kamboja bukan hanya geografis tetapi juga psikologis. Saat Willard melakukan perjalanan lebih dalam ke hutan, film ini menunjukkan bahwa Ia juga semakin turun ke lapisan jiwa manusia yang lebih gelap. Lingkungan menjadi semakin kacau dan surealis, melambangkan erosi dari rasionalitas.

Secara filosofis, perjalanan ini menyerupai konflik dengan apa yang digambarkan oleh banyak pemikir eksistensial sebagai jurang eksistensi manusia, dark abyss. Perang melucuti norma-norma sosial dan mengekspos individu pada realitas dasar bertahan hidup, memaksa mereka untuk menghadapi kemungkinan bahwa moralitas mungkin bersifat kontingen daripada absolut.

Kolonel Kurtz dan Filsafat Keruntuhan Moral

Karakter filosofis dalam film ini adalah Kolonel Walter E. Kurtz, yang diperankan oleh Marlon Brando. Kurtz mewakili titik akhir dari dekadensi psikologis dan moral yang sedang dihadapi Willard. Dahulu, Ia adalah seorang perwira yang dihormati. Akan tetapi, Kurtz membelot lalu meninggalkan struktur dan identitas militer resmi, kemudian mendirikan wilayah sektenya sendiri yang jauh di dalam hutan perbatasan Kamboja. Ia digambarkan oleh otoritas militer AS sebagai orang gila dan pembelot, namun pidatonya mengungkapkan kejelasan yang mengganggu tentang sifat perang.

Kurtz berpendapat bahwa kemenangan membutuhkan kemauan untuk bertindak tanpa keraguan moral. Dalam salah satu adegan monolog yang paling mengerikan, Ia mengagumi efektifitas kekerasan kejam yang dilakukan tanpa kendali emosi. Dari perspektif ini, Ia mengkritik secara radikal terhadap moralitas konvensional, bahwa aturan moral runtuh di bawah kondisi perang yang ekstrem, hanya meninggalkan kekuasaan dan kelangsungan hidup sebagai prinsip panduan.

Gagasan ini beresonansi dengan tema-tema tertentu yang ditemukan dalam filsafat Friedrich Nietzsche. Nietzsche terkenal berargumen bahwa sistem moral tradisional sering menyembunyikan naluri yang lebih dalam yang terkait dengan kekuasaan dan dominasi. Meskipun Apocalypse Now tidak secara lansung merujuk pada Nietzsche, penolakan Kurtz terhadap kemunafikan moral menggemakan kritik filsuf tersebut terhadap etika konvensional. Kurtz melihat perang sebagai pengungkapan kebrutalan yang biasanya disembunyikan oleh peradaban.

Namun film ini tidak hanya mendukung perspektif Kurtz. Sebaliknya, film ini menyajikan pandangan dunia sebagai sesuatu yang menarik secara intelektual dan mengerikan secara moral. Kurtz bukan hanya penjahat tetapi juga sosok tragis yang telah mengikuti logika tertentu hingga kesimpulan ekstremnya. Wawasannya mengenai sifat kekerasan adalah tulus, tetapi harga dari wawasan itu adalah kehancuran kemanusiaan.

Kegilaan Sebagai Tema Film

Salah satu tema filosofis utama Apocalypse Now adalah kegilaan. Sepanjang film, momen-momen aksi militeristik berulang kali terganggu oleh absurditas dan kekacauan. Sutradara Francis Coppola dalam wawancara mengenai film Apocalypse Now, Ia mengatakan bahwa:

"Film saya bukanlah sebuah film. Film saya bukan tentang Vietnam. Ini adalah Vietnam. Ini adalah gambaran nyata Vietnam. Sungguh gila... Kami berada di hutan. Jumlah kami terlalu banyak. Kami memiliki akses ke terlalu banyak uang, terlalu banyak peralatan, dan sedikit demi sedikit, kami menjadi gila."

Adegan serangan helikopter terkenal yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Kilgore diperankan oleh mendiang Robert Duvall, menggambarkan ini. Kilgore melakukan serangan besar-besaran sambil memainkan musik klasik dan menunjukkan antusiasme untuk berselancar. Adegan tersebut epik sekaligus mengganggu dan absurd, mengungkapkan bagaimana kekerasan dapat dinormalisasi dan bahkan diestetisasi dalam budaya militer.

Normalisasi ini mencerminkan mekanisme penanggulangan. Tentara harus beradaptasi dengan kekerasan ekstrem agar dapat berfungsi, dan humor atau tontonan dapat memberikan jarak emosional dari kengerian tindakan mereka. Namun, film ini menunjukkan bahwa mekanisme tersebut secara bertahap mengikis kesadaran moral.

Kembali ke Beranda